Di Indonesia, jam kerja yang biasa kita temui normalnya adalah 8.00-17.00 atau 9.00-18.00. Akan tetapi, jam kerja tersebut tidak berlaku untuk perusahaan di industri manufaktur. Industri Manufaktur adalah industri yang kegiatan utamanya mengubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Selain itu, industri manufaktur dikenal sebagai industri yang memiliki jam produksi panjang. Untuk mengatasi jam produksi yang panjang, perusahaan manufaktur biasanya membagi jam kerja menjadi beberapa shift.
Dengan target perusahaan yang sudah diset, HR akan membaginya menjadi load kerja yang harus dikerjakan oleh karyawan pada tiap shift. Dalam hal ini, efisiensi untuk mengatur load kerja pada setiap shift dibutuhkan untuk mengurangi kelebihan beban jam kerja dan beban biaya produksi.
Mengenal Peraturan Pemerintah Mengenai Shift Kerja
Sebelum mengatur shift kerja karyawan, HR perlu memperhatikan bagaimana pemerintah mengatur shift kerja perusahaan dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor: Kep. 233 /Men/2003 tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan yang Dijalankan Secara Terus Menerus.
Pada pasal 2 dari peraturan tersebut, disebutkan bahwa jam kerja dapat dibagi menjadi 2 tipe waktu kerja:
- 7 jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu; atau
- 8 (delapan) jam 1 (satu) hari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu.
Dengan adanya ketetapan dari pemerintah tersebut, seorang karyawan di perusahaan manufaktur akan mendapatkan jam kerja berbeda secara berkala disesuaikan dengan peraturan perusahaan.
Oleh karena itu, beberapa hal yang dapat dilakukan oleh tim HR untuk mengatur shift kerja di perusahaannya adalah:
- Merancang load pekerjaan per jam kerja
Tetapkan target yang ingin dicapai dan atur load kerja per shift untuk mencapai target tersebut. Untuk mencapai target tersebut, menambah jam kerja bukan menjadi cara yang praktis. Akan tetapi, bagaimana memaksimalkan jam kerja yang ada bisa menjadi solusi yang tepat. Dengan memaksimalkan load pekerjaan yang sudah diatur, diharapkan target dapat dicapai.
- Merancang shift kerja yang bertahap
Pembagian shift kerja pada industri manufaktur menyebabkan karyawan yang satu dan lainnya mendapatkan shift kerja yang berbeda. Seorang karyawan bisa mendapatkan jadwal shift pendek sedangkan karyawan lainnya mendapatkan shift panjang. Apabila mendapatkan shift pendek, karyawan dapat bekerja lebih rileks. Pekerjaan yang dilakukan juga tidak terasa repetitif. Lain halnya dengan karyawan yang bekerja saat shift panjang dan pekerjaan yang repetitif, karyawan dapat mengalami kelelahan, kehilangan konsentrasi bahkan cedera.
Oleh karena itu, HR diharapkan mampu merancang shift kerja yang bertahap dengan istirahat yang cukup diantara shift yang sudah dirancang. Merancang load kerja tiap jam secara maksimal memang penting tetapi jangan lupakan porsi istirahat untuk tiap karyawan.
- Memberikan insentif cuti, bonus atau libur
Dengan shift kerja yang panjang dan bergantian, karyawan dapat mengalami kejenuhan dan ketidakseimbangan jam tidur. Hal ini akan mempengaruhi kesehatan dan performa karyawan saaat bekerja. Dengan begitu, insentif cuti, bonus atau libur yang diberikan kepada karyawan dapat menjadi salah satu cara prefentif setelah bekerja dengan shift panjang. Diharapkan karyawan tetap dapat menjalani kehidupan yang seimbang dan memiliki performa kerja yang maksimal.
- Menggunakan Aplikasi HRIS untuk setting shift kerja
Tidak sedikit perusahaan manufaktur memiliki jumlah karyawan mencapai ribuan bahkan puluhan ribu. HR harus bekerja keras untuk mengatur shift kerja yang sesuai dengan target perusahaan. Mengatur shift kerja dengan sistem manual bisa menjadi salah satu pekerjaan yang berat. Kemungkinan terjadinya human error cukup besar sehingga juga berdampak pada proses penyaluran informasi jadwal shift kerja kepada karyawan. Untuk membantu pekerjaan tersebut, diperlukan aplikasi Human Resource Information System (HRIS) yang mempermudah proses pengaturan shift kerja karyawan. Dengan aplikasi HRIS, karyawan dapat berpindah shift dengan melakukan request dari aplikasi HRIS. Notifikasi penolakkan atau penyetujuan dapat dipantau lewat aplikasi HRIS tersebut. Selain proses pengaturan shift kerja, HR juga dapat mengatur insentif cuti, bonus atau libur yang didapatkan karyawan dengan jumlah kehadiran pada shift kerja tertentu. Proses perhitungan insentif ini dapat digabung juga dengan proses payroll perusahaan tersebut. Dapat disimpulkan, proses pengaturan shift kerja memang tidak pernah mudah apabila dilakukan dengan sistem manual. Penggunaan aplikasi HRIS pada perusahaan manufaktur mengurangi beban pekerjaan yang sifatnya tidak otomatis dan meminimalisir human error.
Sebagai salah satu aplikasi HRIS yang dapat diaplikasikan pada perusahaan di berbagai industri, CherryApps dapat mengakomodir pengaturan shift kerja, proses payroll, sampai dengan penghitungan pajak penghasilan karyawan. Tertarik untuk melihat kemudahan penggunaan CherryApps pada perusahaan Anda? Silahkan klik “Jadwalkan Demo” dan tim CherryApps akan segera mengontak Anda.